PERSATUAN ADVOKAT INDONESIA – P E R A D I N (Samuelcyber’s Blog)


PERSATUAN ADVOKAT INDONESIA – P E R A D I N
Nomor : 9.

Pada hari ini, Sabtu, tanggal lima belas Nopember dua ribu tiga (15–11–2003); —
Menghadap kepada saya, SOEKARNO, Sarjana Hukum, Notaris di Bandar Lampung, dengan dihadiri oleh saksi-saksi yang saya, Notaris kenal dan akan disebut pada bagian akhir akta ini : ——————————————————-
1. Tuan FIRMAN SIMATUPANG, Sarjana Hukum, Lahir di Palembang pada tanggal 24(dua puluh empat) September 1957(seribu sembilan ratus lima puluh tujuh), Warga Negara Indonesia, Advokat, bertempat tinggal di Lampung, Jalan Imam Bonjol Nomor 285, Kelurahan Gedong Air, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung, Kartu Tanda Penduduk Nomor 08.5006.240957.0002, yang dikeluarkan oleh Camat Tanjungkarang Barat, berlaku hingga tanggal 24(dua puluh empat) September 2008(dua ribu delapan);

2. Tuan AGUSMAN CANDRA JAYA, Sarjana Hukum, Lahir di Palembang pada tanggal 12(dua belas) Agustus 1964(seribu sembilan ratus enam puluh empat), Warga Negara Indonesia, Advokat, bertempat tinggal di Lampung, Jalan Pagar Alam Komplek Angkatan Darat Nomor 18, Kelurahan Segala Mider, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung, Kartu Tanda Penduduk Nomor 08.5006.120864.0006, yang dikeluarkan oleh Camat Tanjungkarang Barat, berlaku hingga tanggal 12(dua belas) Agustus 2005(dua ribu lima); ——————————————————————–
3. Tuan WATONI, Sarjana Hukum, Lahir di Palembang pada tanggal 20(dua puluh) Mei 1965(seribu sembilan ratus enam puluh lima), Advokat, bertempat tinggal di Lampung, Perumahan Griya Hayam Wuruk Blok B.3 Nomor 6, Kelurahan Kedamaian, Kecamatan Tanjungkarang Timur, Bandar Lampung, Kartu Tanda Penduduk Nomor 08.5004.200565.0010, yang dikeluarkan oleh Camat Tanjungkarang Timur, berlaku hingga tanggal 20(dua puluh) Mei 2008(dua ribu delapan); —————————————–
4. Tuan AHMAD ISWAN HENDI CAYA, Sarjana Hukum, Lahir di Gisting pada tanggal 2(dua) Oktober 1967(seribu sembilan ratus enam puluh tujuh), Warga Negara Indonesia, Advokat, bertempat tinggal di Lampung, Jalan Rajabasa I Blok B Nomor 4, Kelurahan Perumnas Way Halim, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung, Kartu Tanda Penduduk Nomor 08.5008.021067.0008, yang dikeluarkan oleh Camat Kedaton, berlaku hingga tanggal 2(dua) Oktober 2008(dua ribu delapan); ———————————-
5. Tuan FAISAL CHUDARI, Sarjana Hukum, Lahir di Serang pada tanggal 13(tiga belas) Pebruari 1971(seribu sembilan ratus tujuh puluh satu), Warga negara Indonesia, Advokat, bertempat tinggal di Lampung, Jalan Rasuna Said Nomor 9, Kelurahan Gulak Galik, Kecamatan Telukbetung Utara, Bandar Lampung, Kartu Tanda Penduduk Nomor 08.5005.130271.0001, yang dikeluarkan oleh Camat Telukbetung Utara, berlaku hingga tanggal 13(tiga belas) Pebruari 2004(dua ribu empat); ———————————————-
Para penghadap tersebut diatas terlebih dahulu menerangkan : ———————
– bahwa pada hari Sabtu, tanggal 6(enam) September 2003(dua ribu tiga) bertempat di Hotel Marcopolo – Bandar Lampung, telah diadakan MUSYAWARAH ADVOKAT SE PROVINSI LAMPUNG dan dari musyarawarah tersebut telah memutuskan : ———————————————————————————
1. Menyetujui untuk membentuk wadah tunggal organisasi advokat, satu dan lain sebagaimana dituangkan dalam Surat Keputusan Pimpinan Sidang MUSYAWARAH ADVOKAT SE PROVINSI LAMPUNG Nomor: 03/M.AL/09.03, aslinya telah diperlihatkan kepada saya, Notaris; ————————————
2. Menyetujui untuk membentuk Tim Formatur untuk menyusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta susunan pengurus PERSATUAN ADVOKAT INDONESIA (PERADIN), satu dan lain sebagaimana dituangkan dalam Surat Keputusan Pimpinan Sidang MUSYAWARAH ADVOKAT SE PROVINSI LAMPUNG Nomor: 07/M.AL/09.03, aslinya telah diperlihatkan kepada saya, Notaris; ——-
– bahwa para penghadap tersebut bermaksud menyatakan pendirian PERSATUAN ADVOKAT INDONESIA (PERADIN) dalam akta notaris; ———————————
Berhubung dengan apa yang diuraikan diatas, maka para penghadap tersebut dengan ini menyatakan mendirikan PERSATUAN ADVOKAT INDONESIA (PERADIN) dan selanjutnya para penghadap tersebut meminta kepada saya, Notaris, untuk menuliskan mukaddimah dan anggaran dasar PERSATUAN ADVOKAT INDONESIA (PERADIN) dengan susunan kata-kata sebagai berikut : —
—————————————– M U K A D I M A H ———————————
————————- Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa ————————-
– Bahwa negara Republik Indonesia sebagai negara Hukum yang berlandaskan Pancasila dan Konstitusi Republik Indonesia, bertujuan mewujudkan tata kehidupan masyarakat, bangsa dan negara yang aman, tentram, tertib, sejahtera, dan berkeadilan. —————————————————————–
– Bahwa untuk mencapai tujuan negara tersebut harus dilakukan penegakan hukum yang didukung oleh segenap unsur penegak hukum yang profesional dan bermoral. ————————————————————————————–
– Bahwa Advokat Indonesia sebagai salah satu unsur penegak hukum dituntut peran aktifnya dalam rangka penegakan hukum yang bertujuan untuk memotivasi tercapainya keadilan dan kepastian hukum serta terlindunginya hak-hak asasi manusia, dalam rangka mewujudkan tujuan pembangunan nasional yaitu masyarakat adil dan makmur. ——————————————————-
– Bahwa peran aktif Advokat Indonesia tidak akan membuahkan hasil yang optimal, apabila Advokat Indonesia tidak berada dalam kebersatuan dan kebersamaan, dimana untuk itu diperlukan satu wadah profesi Advokat yang bebas mandiri sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat. ————————————————————–
– Bahwa berdasarkan hal tersebut maka pada hari Sabtu, tanggal 6(enam) September 2003(dua ribu tiga) di Bandar Lampung, para advokat Indonesia di Lampung telah berkehendak dan bersepakat untuk membentuk dan mendirikan organisasi Advokat sebagai wadah profesi yang berasaskan Pancasila dengan Anggaran Dasar sebagai berikut : ———————————————————
——————————————– BAB I ———————————————-
———————————– KETENTUAN UMUM ————————————–
——————————————- Pasal 1 ———————————————-
Dalam Anggaran Dasar ini, yang dimaksud dengan : ———————————–
1. ADVOKAT adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan Undang-Undang. —————————————————————————————-
2. ANGGOTA adalah setiap Advokat yang telah memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta telah terdaftar menjadi anggota Peradin. ——————————————————-
3. Undang-Undang adalah Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat yang mulai berlaku sejak diundangkan pada tanggal 5(lima) April 2003(dua ribu tiga) dan telah diumumkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 49 Tahun 2003, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4282, berikut setiap perubahan dan atau penggantinya. ———
——————————————— BAB II ——————————————–
———————– NAMA, TEMPAT KEDUDUKAN DAN WAKTU ———————-
——————————————– Pasal 2 ——————————————–
1. Organisasi ini adalah Wadah Profesi Advokat Indonesia sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 28 Ayat 1 Undang-undang Advokat Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat yang diberi nama PERSATUAN ADVOKAT INDONESIA disingkat PERADIN. —————————————————————————
2. Untuk pertama kalinya Peradin berkedudukan di Ibukota Propinsi Lampung (Bandar Lampung) dan sekaligus sebagai organisasi Pusat, dengan organisasi Daerah dan Cabang di seluruh wilayah Indonesia yang akan ditetapkan setelah anggaran dasar ini disahkan. —————————————————————
3. Peradin didirikan dan dibentuk pada hari Sabtu tanggal 6(enam) September 2003(dua ribu tiga). ————————————————————————–
4. Peradin didirikan untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya. ——————–
——————————————– BAB III ——————————————–
———————————— ASAS DAN TUJUAN ————————————–
——————————————- Pasal 3 ———————————————
1. Peradin berazaskan Pancasila dan berlandaskan Konstitusi Republik Indonesia.
2. Tujuan dibentuknya Peradin adalah untuk : ——————————————
a. Menegakkan hukum, kebenaran dan keadilan serta meningkatkan kesadaran hukum anggota masyarakat. ———————————————————–
b. Menumbuhkan dan memelihara rasa setia kawan, persatuan dan kesatuan diantara para anggota. ——————————————————————
c. Meningkatkan Kualitas Profesi Advokat. ———————————————-
d. Membela dan memperjuangkan hak serta kepentingan para anggota dalam melakukan tugas profesinya. ————————————————————
e. Menegakkan harkat dan martabat profesi Advokat. ———————————
f. Menegakkan dan melaksanakan Kode Etik Profesi. ———————————-
——————————————– BAB IV ——————————————–
——————————- LAMBANG DAN ATRIBUT ————————————
——————————————- Pasal 4 ———————————————
Lambang dan atribut Peradin akan dituangkan dalam Anggaran Rumah Tangga Peradin. —————————————————————————————-
——————————————– BAB V ———————————————
————————————– K E G I A T A N —————————————-
——————————————- Pasal 5 ———————————————-
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka Peradin melakukan kegiatan dan usaha-usaha sebagai berikut : ———————————————————————-
1. Menghimpun dan mempersatukan seluruh Advokat Indonesia. ——————-
2. Mengadakan Pembinaan dan Pengawasan terhadap anggota dalam rangka menjaga dan menjunjung tinggi martabat kehormatan profesi sesuai dengan kode etik Profesi dan Undang-Undang. ————————————————
3. Melakukan riset dalam bidang hukum. ————————————————
4. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi Anggota. ———————-
5. Melakukan dan memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma bagi mereka yang tidak mampu membayar uang jasa hukum. —————————————
6. Mengadakan kerjasama dalam bidang hukum dengan badan-badan/lembaga-lembaga/instansi-instansi Pemerintah Swasta, baik di dalam maupun di luar negeri. ——————————————————————————————
7. Melakukan kegiatan-kegiatan lain yang dipandang perlu dan bermanfaat bagi para anggota. ———————————————————————————
——————————————- BAB VI ———————————————
———————————- K E A N G G O T A A N ————————————
——————————————– Pasal 6 ——————————————–
—————————— PERSYARATAN KEANGGOTAAN —————————–
Anggota yang dapat diterima menjadi anggota Peradin adalah setiap Advokat (vide Pasal 1 ayat 1 dan 2) dengan cara mengajukan permohonan ditujukan kepada Dewan Pimpinan Cabang setempat dengan memenuhi dan melengkapi persyaratan yang telah diatur dalam Anggaran Rumah Tangga. ———————
—————————————— Pasal 7 ———————————————-
————————— HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA ——————————
1. Setiap anggota Peradin wajib tunduk dan mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta Kode Etik Peradin. ————————————-
3. Setiap anggota Peradin berhak memilih dan dipilih sebagai Pimpinan Pengurus, Dewan Kehormatan dan Komisi Pengawas, baik di Pusat, di Daerah dan di Cabang. —————————————————————————————-
4. Setiap anggota Peradin berhak berbicara dan mengeluarkan satu suara dalam munas dan rapat yang diselenggarakan Peradin sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar ini. ————————————————————————–
——————————————- Pasal 8 ———————————————
—————————— BERAHIRNYA KEANGGOTAAN ——————————-
Keanggotaan seseorang dimaksud dalam Pasal 6 Anggaran Dasar ini berakhir karena : —————————————————————————————-
a. Meninggal dunia. ————————————————————————–
b. Mengundurkan diri. ———————————————————————–
c. Diberhentikan oleh Dewan Pengurus Pusat karena : ———————————
(1) perbuatannya yang mencemarkan nama baik Peradin; ————————
(2) melanggar Kode Edik Peradin berdasarkan keputusan Dewan Kehormatan;
(3) tidak patuh terhadap Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan Peraturan Peradin. ——————————————————————-
—————————————— BAB VII ———————————————
———————————– PIMPINAN PENGURUS ———————————–
——————————————- Pasal 9 ———————————————-
Pimpinan Pengurus Peradin di pusat disebut Dewan Pimpinan Pusat, di Daerah disebut Dewan Pimpinan Daerah dan di Cabang disebut Dewan Pimpinan Cabang. —————————————————————————————-
——————————————- BAB VIII ——————————————-
——————————– DEWAN PIMPINAN PUSAT ———————————-
—————————————— Pasal 10 ———————————————
—————– TEMPAT KEDUDUKAN DEWAN PIMPINAN PUSAT ———————
Dewan Pimpinan Pusat untuk pertama kalinya bertempat kedudukan di ibukota Propinsi Lampung dan selanjutnya berdasarkan Keputusan MUNAS, dapat dialihkan ke tempat lain dalam wilayah hukum negara Kesatuan Republik Indonesia. ————————————————————————————-
—————————————– Pasal 11 ———————————————-
——————- TUGAS KEWAJIBAN DEWAN PIMPINAN PUSAT ———————-
1. Dewan Pimpinan Pusat berkewajiban melaksanakan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dengan sebenar-benarnya. —————————-
2. Dewan Pimpinan Pusat berkewajiban melaksanakan program kerja yang ditetapkan oleh MUNAS. ———————————————————————
3. Dewan Pimpinan Pusat secara periodik mempunyai tugas kewajiban mengadakan Rapat Kerja (RAKER) sekali dalam setahun dan mengadakan MUNAS 4 (empat) tahun sekali. ————————————————————
—————————————— Pasal 12 ———————————————
——————– TANGGUNG JAWAB DEWAN PIMPINAN PUSAT ———————
1. Dewan Pimpinan Pusat bertanggung jawab kepada MUNAS. ———————-
2. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat wajib membuat dan menyampaikan laporan pertanggungan jawab terhadap tugas dan kewajibannya selama masa jabatannya pada akhir masa jabatannya kepada seluruh anggota di dalam forum MUNAS dan MUNAS dapat menyatakan menerima atau menolak laporan pertanggungan jawab tersebut. ————————————————————
——————————————– Pasal 13 ——————————————-
———————– MASA JABATAN DEWAN PIMPINAN PUSAT ———————–
1. Masa jabatan Ketua Umum, wakil Ketua Umum dan seluruh anggota pengurus Dewan Pimpinan Pusat adalah 4(empat) tahun terhitung sejak ditetapkan dan disahkan Ketua Umum tersebut oleh MUNAS. ——————————————-
2. Dewan Pimpinan Pusat yang telah genap menjalani masa jabatannya 4(empat) tahun tersebut secara otomatis dalam status demisioner sampai dengan saat dilaksanakannya serah terima jabatan kepada Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat yang baru untuk periode 4(empat) tahun berikutnya hasil keputusan MUNAS. —————————————————————————————-
3. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat yang telah mengakhiri jabatannya tidak diperbolehkan lagi dan tidak mempunyai hak untuk mencalonkan dirinya atau dicalonkan lagi dalam pemilihan Ketua Umum di MUNAS untuk periode berikutnya. ————————————————————————————-
——————————————– BAB IX ———————————————
——————————- DEWAN PIMPINAN DAERAH ——————————–
——————————————- Pasal 14 ——————————————-
—————– TEMPAT KEDUDUKAN DEWAN PIMPINAN DAERAH ——————
Dewan Pimpinan Daerah bertempat kedudukan ditempat kedudukan/wilayah hukum Pengadilan Tinggi. ——————————————————————-
——————————————- Pasal 15 ——————————————-
——————– TUGAS KEWAJIBAN DEWAN PIMPINAN DAERAH ——————-
Dewan Pimpinan Daerah mempunyai tugas dan Kewajiban : ————————-
1. Melaksanakan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. ——————–
2. Melaksanakan program kerja Dewan Pimpinan Daerah serta keputusan-keputusan dan Kebijaksanaan-kebijaksanaan yang digariskan oleh Dewan Pimpinan Daerah. —————————————————————————–
3. Mengadakan Rapat Anggota secara priodik paling sedikitnya satu kali dalam 6(enam) bulan. ———————————————————————–
4. Mengadakan Rapat Umum Anggota 4(empat) tahun sekali, yang diadakan secara berkala untuk memilih Ketua Dewan Pimpinan Daerah, Ketua Dewan Kehormatan Daerah dan Ketua Komisi Pengawas Daerah. —————————-
——————————————– Pasal 16 ——————————————-
—————— TANGGUNG JAWAB DEWAN PIMPINAN DAERAH ——————–
1. Dewan Pimpinan Daerah bertanggung jawab kepada seluruh anggota daerah, membuat laporan pertanggungan jawab di Rapat Umum Anggota. —————-
2. Membuat laporan kerja kepada Dewan Pimpinan Pusat secara berkala. ——–
—————————————- Pasal 17 ———————————————-
—————– MASA JABATAN DEWAN PIMPINAN DAERAH —————————
1. Masa jabatan Ketua, Wakil Ketua dan seluruh anggota pengurus Dewan Pimpinan Daerah adalah 4(empat) tahun terhitung sejak tanggal disahkannya Pengurus Dewan Pimpinan Daerah oleh Dewan Pimpinan Pusat.- ——————–
2. Dewan Pimpinan Daerah yang telah habis masa jabatannya dinyatakan dalam keadaan demisioner. ————————————————————————-
3. Ketua Dewan Pimpinan Daerah yang telah mengakhiri masa jabatannya tidak dibolehkan lagi dan tidak mempunyai hak untuk mencalonkan dirinya atau dicalonkan lagi dalam pemilihan Ketua Dewan Pimpinan Daerah dalam Rapat Umum Daerah dalam Rapat Umum Anggota untuk Periode 4(empat) tahun berikutnya. ————————————————————————————-
——————————————— BAB X ———————————————
——————————- DEWAN PIMPINAN CABANG ——————————–
——————————————- Pasal 18 ——————————————-
—————— TEMPAT KEDUDUKAN DEWAN PIMPINAN CABANG ——————
Dewan Pimpinan Cabang bertempat kedudukan ditempat kedudukan/wilayah hukum Pengadilan Negeri. ——————————————————————
—————————————— Pasal 19 ——————————————–
—————— TUGAS DAN KEWAJIBAN DEWAN PIMPINAN CABANG ————–
Dewan Pimpinan Cabang adalah mempunyai tugas dan kewajiban untuk : ——–
1. Melaksanakan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. ——————-
2. Melaksanakan program kerja Dewan Pimpinan Cabang serta keputusan keputusan dan Kebijaksanaan-kebijaksanaan yang digariskan oleh Dewan Pimpinan Cabang. —————————————————————————-
3. Mengadakan Rapat Anggota secara priodik paling sedikitnya satu kali dalam 6(enam) bulan. ———————————————————————–
4. Mengadakan Rapat Umum Anggota 4(empat) tahun sekali, yang diadakan secara berkala untuk memilih Ketua Dewan Pimpinan Cabang dan Ketua Komisi Pengawas Cabang. —————————————————————————
—————————————— Pasal 20 ——————————————–
—————— TANGGUNG JAWAB DEWAN PIMPINAN CABANG ——————–
1. Dewan Pimpinan Cabang bertanggung jawab kepada seluruh anggota daerah, dengan membuat laporan pertanggungjawaban di Rapat Umum Anggota. ——–
2. Membuat dan menyampaikan laporan kerja kepada Dewan Pimpinan Daerah secara berkala. ——————————————————————————-
——————————————- Pasal 21 ——————————————-
——————– MASA JABATAN DEWAN PIMPINAN CABANG ————————
1. Masa jabatan Ketua, Wakil Ketua dan seluruh anggota pengurus Dewan Pimpinan Cabang adalah 4(empat) tahun terhitung sejak tanggal disahkannya Pengurus Dewan Pimpinan Cabang oleh Dewan Pimpinan Daerah. ——————
2. Dewan Pimpinan cabang yang telah habis masa jabatannya dinyatakan dalam keadaan demisioner. ————————————————————————-
3. Ketua Dewan Pimpinan cabang yang telah mengakhiri masa jabatannya tidak dibolehkan lagi dan tidak mempunyai hak untuk mencalonkan dirinya atau dicalonkan lagi dalam pemilihan Ketua Dewan Pimpinan Cabang dalam Rapat Umum Cabang dalam Rapat Umum Anggota untuk Periode 4(empat) tahun berikutnya. ————————————————————————————-
——————————————– BAB XI ——————————————–
———————————– DEWAN KEHORMATAN ———————————–
——————————————- Pasal 22 ——————————————-
—————————— KEDUDUKAN SERTA SUSUNAN ——————————
1. Dewan Kehormatan Peradin hanya dibentuk di Pusat dan di Daerah. Dewan Kehormatan di Pusat disebut Dewan Kehormatan Pusat dan di Daerah disebut Dewan Kehormatan Daerah. —————————————————————-
2. Ketua Dewan Kehormatan Pusat dipilih dan disahkan oleh MUNAS, dan Ketua Dewan Kehormatan Daerah dipilih dan disahkan oleh Rapat Umum Anggota Daerah. —————————————————————————————–
3. Ketua Dewan Kehormatan Pusat menyusun dan mengangkat anggota-anggotanya yang terdiri dari seorang sekretaris dan beberapa orang sebagai anggota dengan ketentuan jumlah anggota keseluruhannya termasuk Ketua paling sedikitnya berjumlah 3(tiga) orang anggota atau selalu harus berjumlah ganjil. ——————————————————————————————-
4. Ketua Dewan Kehormatan Daerah menyusun dan mengangkat anggota-anggotanya yang terdiri dari seorang sekretaris dan beberapa orang sebagai anggota dengan ketentuan jumlah anggota keseluruhannya termasuk Ketua paling sedikitnya berjumlah 3(tiga) orang anggota atau selalu harus berjumlah ganjil. ——————————————————————————————-
—————————————— Pasal 23 ——————————————–
———————– MASA JABATAN DEWAN KEHORMATAN —————————
1. Masa jabatan Ketua dan Dewan Kehormatan Pusat sama dengan jabatan Dewan Pimpinan Pusat. ———————————————————————
2. Masa jabatan Ketua dan Dewan Kehormatan Daerah sama dengan jabatan Dewan Pimpinan Daerah. ——————————————————————-
——————————————- Pasal 24 ——————————————-
—————————– TUGAS DEWAN KEHORMATAN ——————————-
1. Dewan Kehormatan bertugas dan memeriksa dan mengadili pelanggaran Kode Etik yang dilakukan oleh anggota. ———————————————————
2. Dewan Kehormatan di Pusat dan Daerah mempunyai kewajiban untuk menjalankan peradilan Kode Etik Advokat. ———————————————–
3. Pemeriksaan Tingkat Pertama pelanggaran Kode etik dilaksanakan oleh Dewan Kehormatan Daerah, sedangkan pemeriksaan tingkat Banding (Terakhir) dilaksanakan oleh Dewan Kehormatan Pusat. ——————————————-
4. Setiap Anggota dapat diperiksa dan diadili oleh Dewan Kehormatan dalam kedudukan yang sama tanpa membedakan jabatan atau latar belakang. ———–
5. Dewan Kehormatan Pusat mempertanggungjawabkan tugas dan pekerjaannya di MUNAS dan Dewan Kehormatan Daerah mempertanggungjawabkan tugas pekerjaannya di Rapat Umum Anggota. ————————————————–
6. Dalam hal mengadili anggota yang melakukan kesalahan atau pelanggaran Dewan Kehormatan membentuk Majelis yang susunannya terdiri dari unsur Dewan Kehormatan, pakar dibidang hukum dan tokoh masyarakat. —————–
——————————————– BAB XII ——————————————-
————————————- KOMISI PENGAWAS ————————————
——————————————– Pasal 25 ——————————————
——————————– KEDUDUKAN DAN SUSUNAN ——————————-
1. Komisi Pengawas Peradin dibentuk di Pusat, di Daerah dan di Cabang. Komisi Pengawas di Pusat disebut Komisi Pengawas Pusat dan di Daerah disebut Komisi Pengawas Daerah dan ditingkat Cabang dibentuk Komisi Pengawas Cabang. —
2. Ketua Komisi Pengawas Pusat dipilih dan disahkan oleh MUNAS, Komisi Pengawas Daerah dipilih dan disahkan oleh Rapat Umum Anggota Daerah, dan Ketua Komisi Pengawas Cabang dipilih dan disahkan oleh Rapat Umum Anggota Cabang. —————————————————————————————-
3. Ketua Komisi Pengawas Pusat menyusun dan mengangkat seorang Sekretaris dan beberapa orang anggota, dimana Ketua dan Sekretaris merangkap sebagai anggota dengan jumlah anggota seluruhnya paling sedikit 3(tiga) orang anggota atau selalu harus berjumlah ganjil. ——————————————————–
4. Ketua Komisi Pengawas Daerah menyusun dan mengangkat seorang Sekretaris dan beberapa orang anggota, dimana Ketua dan Sekretaris merangkap sebagai anggota dengan jumlah anggota seluruhnya paling sedikit 3(tiga) orang anggota atau selalu harus berjumlah ganjil. ———————————————
5. Ketua Komisi Pengawas Daerah menyusun dan mengangkat seorang Sekretaris dan beberapa orang anggota, dimana Ketua dan Sekretaris merangkap sebagai anggota dengan jumlah anggota seluruhnya paling sedikit 3(tiga) orang anggota atau selalu harus berjumlah ganjil. ———————————————
4. Keanggotaan Komisi Pengawas terdiri dari unsur advokat senior, para ahli/akademisi dan masyarakat. ————————————————————
——————————————- Pasal 26 ——————————————-
————————— MASA JABATAN KOMISI PENGAWAS ————————–
1. Masa jabatan Ketua dan Komisi Pengawas Pusat sama dengan masa jabatan Dewan Pimpinan Pusat. ———————————————————————
2. Masa jabatan Ketua dan Komisi Pengawas Daerah sama dengan masa jabatan Dewan Pimpinan Daerah. ——————————————————————-
3. Masa jabatan Ketua dan Komisi Pengawas cabang sama dengan masa jabatan Dewan Pimpinan Cabang. ——————————————————————-
——————————————- Pasal 27 ——————————————-
—————————— TUGAS KOMISI PENGAWAS ———————————-
1. Komisi Pengawas Pusat, baik diminta maupun tidak diminta, memberikan saran-saran pendapat dan nasehat-nasehat kepada Dewan Pimpinan Pusat. —-
2. Komisi Pengawas Daerah, baik diminta maupun tidak diminta, memberikan saran-saran pendapat dan nasehat-nasehat kepada Dewan Pimpinan Daerah. —-
3. Komisi Pengawas Cabang, baik diminta maupun tidak diminta, memberikan saran-saran pendapat dan nasehat-nasehat kepada Dewan Pimpinan Cabang. —-
4. Saran-saran pendapat dan nasehat-nasehat yang diberikan oleh Komisi Pengawas bersifat tidak mengikat. ——————————————————–
5. Komisi Pengawas Pusat wajib mempertanggungjawabkan tugas dan kewajiban nya dihadapan MUNAS, Komisi Pengawas Daerah mempertanggungjawabkan tugas dan kewajibannya dihadapan Rapat Umum Anggota Daerah, dan Komisi Pengawas Cabang mempertanggungjawabkan tugas dan kewajibannya dihadapan Rapat Umum Anggota Cabang. ———————————————–
——————————————- BAB XIII ——————————————-
—————————————- K O D E E T I K ————————————-
——————————————- Pasal 28 ——————————————-
1. Untuk menjaga dan mempertahankan martabat kehormatan Advokat (Pasal 1 Ayat 1 Anggaran Dasar), maka akan dibuat Kode Etik Peradin berdasarkan MUNAS. —————————————————————————————-
2. Setiap Advokat anggota Peradin wajib untuk mematuhi Kode Etik Peradin. —–
3. Kode Etik Pengacara/Advokat yang telah ada sebelum dibentuknya Peradin ini tetap berlaku sampai dengan adanya Kode Etik Peradin yang dibuat berdasarkan keputusan MUNAS. —————————————————————————
2. Untuk mengawasi Kode Etik tersebut, ditingkat Pusat dilaksanakan oleh Dewan kehormatan Pusat dan di daerah dilaksanakan oleh Dewan Kehormatan Daerah. –
——————————————- BAB XIV ——————————————-
——————————— TENTANG RAPAT-RAPAT ———————————-
——————————————- Pasal 29 ——————————————-
————————————- RAPAT BERKALA —————————————-
1. Rapat yang harus diadakan secara berkala adalah MUNAS, RAKER, Rapat Umum Anggota Daerah, Rapat Umum Anggota Cabang dan Rapat Anggota. ——
2. Rapat yang harus diadakan oleh Pengurus secara berkala adalah Rapat Pimpinan, Rapat Pleno, dan Rapat Pleno Terbatas. ————————————-
3. MUNAS diadakan secara berkala 4(empat) tahun satu kali, yang diadakan oleh Dewan Pimpinan Pusat, yang dihadiri oleh seluruh anggota dan undangan lainnya. —————————————————————————————–
4. RAKERNAS diadakan secara berkala satu kali dalam satu tahun, kecuali untuk tahun bersamaan dengan diadakannya MUNAS, yang diadakan oleh Dewan Pimpinan Pusat dan dihadiri oleh Dewan Pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan Cabang dari seluruh di Indonesia serta anggota Peradin atau wakil-wakil utusan dan undangan-undangan. ——————————————————————-
5. Rapat Umum Anggota Daerah diadakan secara berkala 4(empat) tahun sekali yang diadakan oleh Dewan Pimpinan Daerah. ——————————————-
6. Rapat Umum Anggota Cabang diadakan secara berkala 4(empat) tahun sekali yang diadakan oleh Dewan Pimpinan Cabang. ——————————————-
7. Rapat Anggota diadakan secara berkala paling lambat sedikitnya 1(satu) kali dalam 6(enam) bulan, yang diadakan oleh Dewan Pimpinan Daerah atau Dewan Pimpinan Cabang dan dihadiri oleh anggota serta undangan lainnya. —————
8. Rapat Pleno diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Pusat di Pusat yang dihadiri oleh seluruh pimpinan pengurus dan Dewan Kehormatan Daerah serta Komisi Pengawas, dalam Rapat Pleno tidak diperlukan korum dan rapat tidak mengambil suatu keputusan. —————————————————————
9. Rapat Pleno Terbatas diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Daerah di Daerah, dihadiri oleh seluruh pengurus Dewan Pimpinan Daerah, Dewan Kehormatan Daerah dan Komisi Pengawas Daerah diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Daerah, rapat ini dapat mengambil suatu keputusan dan untuk sahnya rapat diperlukan adanya korum. ———————————————————–
10. Rapat Pleno terbatas diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Cabang di Cabang, dihadiri oleh seluruh pengurus Dewan Pimpinan Cabang, dan Komisi Pengawas Cabang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Cabang, dalam rapat ini diambil keputusan-keputusan dan untuk sahnya rapat diperlukan adanya korum. ——————————————————————————————
—————————————— Pasal 30 ——————————————–
————————– KORUM RAPAT PLENO TERBATAS ——————————
Rapat Pleno Terbatas dapat mengambil keputusan-keputusan sah bila rapat memenuhi korum yaitu dihadiri oleh sekurang-kurangnya 1/2(setengah) dari jumlah anggota Rapat Pleno Terbatas ditambah satu anggota. ———————–
Apabila Korum tidak tercapai, Rapat Pleno Terbatas diundurkan untuk waktu yang lamanya sekurang-kurangnya 1(satu) jam dan setelah itu kemudian Rapat Pleno Terbatas dinyatakan dibuka kembali dengan tidak terikat oleh korum lagi, selanjutnya Rapat Pleno Terbatas dapat mengambil keputusan-keputusan secara sah apabila usul-usul anggota yang bersangkutan disetujui dalam musyawarah untuk mufakat atau dengan jumlah suara terbanyak biasa. —————————
——————————————– BAB XV ——————————————–
———————————- MUSYAWARAH NASIONAL ——————————–
——————————————- Pasal 31 ——————————————–
————————— PEMEGANG KEKUASAAN TERTINGGI ————————–
1. MUNAS Peradin adalah lembaga pemegang kekuasaan tertinggi dalam Peradin.
2. Kekuasaan Tertinggi dalam Peradin sepenuhnya berada ditangan anggotanya berdasarkan hak suara anggota melalui forum MUNAS. ——————————-
3. MUNAS berkala diadakan 4(empat) tahun sekali. ————————————
——————————————- Pasal 32 ——————————————–
————————————- PESERTA MUNAS —————————————
1. Setiap anggota berhak untuk hadir dan ikut serta didalam semua acara yang diselenggarakan dalam MUNAS sebagai peserta MUNAS. ——————————
2. Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Kehormatan Pusat, Komisi Pengawas Pusat, Dewan Pimpinan Daerah, Dewan Kehormatan Daerah, Komisi Pengawas Daerah dan Dewan Pimpinan Cabang, Dewan Kehormatan Cabang, Dewan Penasehat Cabang diundang hadir di MUNAS sebagai perserta MUNAS. ————————–
3. Undangan yang diundang hadir di MUNAS sebagai peserta undangan MUNAS.
——————————————- Pasal 33 ——————————————–
——————— HAK MEMILIH DAN HAK DIPILIH DI MUNAS ———————–
Setiap anggota yang hadir dan terdaftar sebagai peserta anggota MUNAS berhak memilih dan berhak dipilih dalam acara pemilihan untuk jabatan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat, Ketua Dewan Kehormatan Pusat dan Ketua Komisi Pengawas Pusat. ——————————————————————————
——————————————- Pasal 34 ——————————————–
——————— HAK SUARA DAN HAK BICARA DI MUNAS ————————–
1. Setiap peserta anggota MUNAS mempunyai hak bicara dan mengeluarkan satu suara. ——————————————————————————————-
2. Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Kehormatan Pusat, Komisi Pengawas Pusat mempunyai hak bicara tetapi tidak mempunyai hak suara. —————————
3. Dewan Pimpinan Daerah, Dewan Kehormatan Daerah, Komisi Pengawas Daerah mempunyai hak bicara tetapi tidak mempunyai hak suara. ——————
4. Dewan Pimpinan Cabang dan Komisi Pengawas Cabang mempunyai hak bicara tetapi tidak mempunyai hak suara. ——————————————————–
5. Undangan tidak mempunyai hak bicara dan tidak mempunyai hak suara. ——-
——————————————- Pasal 35 ——————————————–
———————— PENYELENGGARAAN DAN PANGGILAN MUNAS —————–
1. MUNAS diadakan oleh Dewan Pimpinan Pusat dengan mengangkat Panitia Penyelenggara MUNAS Peradin. ———————————————————–
2. Panitia Penyelenggara MUNAS dalam waktu paling lambat atau sekurang-kurangnya dalam tempo 15(lima belas) hari sebelumnya saat tanggal hari pembukaan dimulainya acara MUNAS, harus sudah menyampaikan undangan panggilan tertulis kepada seluruh anggota Peradin di Indonesia, baik yang ada di Daerah maupun di Cabang. —————————————————————–
3. Undangan panggilan MUNAS tersebut juga disampaikan kepada Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Kehormatan Pusat, Dewan Penasehat Pusat, seluruh Dewan Pimpinan Daerah, Dewan Kehormatan Daerah, Komisi Pengawas Daerah. Dewan Pimpinan Cabang, dan Komisi Pengawas Cabang di Indonesia. ————-
4. Undangan panggilan tertulis tersebut memuat tentang acara MUNAS waktu dan tempat diselenggarakannya MUNAS. ————————————————
5. Undangan panggilan tertulis kepada setiap anggota dapat disampaikan secara langsung atau dengan cara melalui Dewan Pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan Cabang. —————————————————————————-
6. Undangan panggilan tersebut dapat juga dilakukan dengan cara diiklankan melalui harian surat kabar/media massa dan berlaku sah. —————————-
——————————————- Pasal 36 ——————————————–
—————————– KORUM DAN SAHNYA MUNAS ——————————–
1. MUNAS Peradin adalah sah apabila dihadiri oleh seluruh anggota Peradin atau dihadiri oleh sekurang-kurangnya sebanyak 1/2(setengah) dari jumlah seluruh anggota Peradin yang ada di Daerah dan Cabang di seluruh Indonesia ditambah 1(satu) anggota. ——————————————————————————
2. Apabila korum tidak tercapai, maka waktu yang telah dijadwalkan dalam acara MUNAS harus dimundurkan sekurang-kurangnya 24(dua puluh empat) jam dan setelah itu kemudian MUNAS dinyatakan dibuka kembali dengan tidak terikat pada ketentuan korum lagi, dan selanjutnya MUNAS dapat mengambil keputusan-keputusan secara sah apabila usul-usul yang disampaikan disetujui dalam musyawarah secara mufakat atau yang diambil dengan suara terbanyak seperti biasa (voting). ————————————————————————
3. Pemungutan suara dalam MUNAS dilakukan berdasarkan perhitungan jumlah hak suara dan anggota Peradin yang hadir di MUNAS sebagai peserta anggota MUNAS yang ditentukan berdasarkan atas jumlah suara terbanyak biasa. ———-
——————————————- Pasal 37 ——————————————–
————————————— ACARA MUNAS —————————————-
Acara MUNAS Peradin adalah: ————————————————————–
1. Pertanggungan jawab Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Kehormatan Pusat dan Komisi Pengawas Pusat atas tugas dan kewajibannya telah dijalankan selama dalam masa jabatannya masing-masing. ————————————————-
2. Pertanggung jawaban keuangan Dewan Pimpinan Pusat. ————————-
3. Mendengarkan usul-usul atau ide-ide yang disampaikan oleh Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Kehormatan Pusat, Komisi Pengawas Pusat maupun Dewan Pimpinan Daerah, Dewan Kehormatan Daerah, Komisi Pengawas Daerah dan Dewan Pimpinan Cabang, dan Komisi Pengawas Cabang yang khusus diundang untuk itu. ————————————————————————————–
——————————————- Pasal 38 ——————————————–
——————————- PIMPINAN SIDANG MUNAS ———————————
1. Sidang MUNAS dipimpin oleh pimpinan sidang yang dipilih dan diangkat oleh dan dari para peserta anggota MUNAS berdasarkan musyawarah untuk mufakat atau dengan suara terbanyak biasa. —————————————————-
Pimpinan terdiri dari seorang Ketua dan seorang Sekretaris dengan dibantu oleh sebanyak-banyaknya 4(empat) orang anggota pimpinan sidang. ——————–
2. Ketua Sidang MUNAS terpilih menentukan dan memilih seorang Sekretaris dan antara anggota pimpinan sidang terpilih. ————————————————-
3. Ketua Sidang dan anggota pimpinan Sidang MUNAS memimpin sidang secara bergantian bilamana dianggap perlu. ——————————————————
——————————————– BAB XVI ——————————————-
————————————– CALON FORMATUR ————————————
——————————————— Pasal 39 ——————————————
—————————- PERSYARATAN CALON FORMATUR —————————
1. Calon Formatur untuk jabatan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : ———————————————–
a. telah terdaftar sebagai anggota Peradin. ——————————————–
b. telah menunjukkan dedikasi dan loyalitas terhadap organisasi profesi Peradin.-
c. tidak menjabat sebagai salah satu pengurus Partai Politik (Parpol) baik Pusat maupun daerah. —————————————————————————
d. pernah menjadi anggota pengurus organisasi Peradin di Daerah, di Cabang atau di Pusat. ——————————————————————————
e. telah berpraktek Advokat berdasarkan izin yang berwenang sekurang-kurangnya selama 5(lima) tahun secara terus menerus. —————————
f. berdomisili atau mempunyai kantor di tempat kedudukan Pimpinan Pusat. —–
g. tidak pernah dihukum dengan putusan pidana yang telah berkekuatan tetap dan pasti. —————————————————————————
2. Calon Formatur untuk jabatan Ketua Dewan Kehormatan Pusat harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: ————————————————
a. telah terdaftar sebagai anggota Peradin. ——————————————–
b. telah menunjukkan dedikasi dan loyalitas terhadap organisasi profesi Peradin, telah berpraktek Advokat berdasarkan izin yang berwenang sekurang-kurangnya selama 10(sepuluh) tahun secara terus menerus. ———————
c. Tidak menjabat sebagai salah satu pengurus Partai Politik (Parpol) baik Pusat maupun daerah. ————————————————————————–
d. berdomisili atau mempunyai kantor di tempat kedudukan Dewan Pimpinan Pusat. —————————————————————————————
e. tidak pernah dihukum dengan putusan pidana yang telah berkekuatan hukum tetap dan pasti. —————————————————————————
3. Calon Formatur untuk jabatan Ketua Komisi Pengawas Pusat harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : ———————————————–
a. telah terdaftar sebagai anggota Peradin sekurang-kurangnya 4(empat) tahun terus menerus. —————————————————————————-
b. telah menunjukkan dedikasi dan loyalitas terhadap Peradin. ———————-
c. telah berpraktek Advokat berdasarkan izin yang berwenang sekurang-kurangnya selama 10(sepuluh) tahun secara terus menerus berdomisili atau mempunyai kantor di tempat kedudukan Dewan Pimpinan Pusat. —————
d. tidak pernah dihukum dengan putusan pidana yang telah berkekuatan hukum tetap dan pasti. —————————————————————————
——————————————– Pasal 40 ——————————————-
————————– TATA CARA PEMILIHAN FORMATUR —————————-
1. Tiap-tiap Dewan Pimpinan Daerah berhak mengajukan nama-nama calon formatur di MUNAS sebanyak-banyaknya 3(tiga) nama calon formatur, masing-masing seorang calon formatur untuk jabatan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat, seorang formatur untuk jabatan Ketua Dewan Kehormatan Pusat dan seorang formatur untuk jabatan Ketua Komisi Pengawas Pusat. ———————
2. Calon-calon formatur tersebut di Daerah dipilih oleh Rapat Umum Anggota Daerah yang diadakan khusus untuk itu oleh Dewan Pimpinan Daerah, kemudian Dewan Pimpinan Daerah mengajukan nama-nama calon formatur terpilih tersebut dengan dilengkapi surat “mandat” dan Rapat Umum Anggota Daerah untuk didaftar dan diikutsertakan dalam pemilihan di MUNAS. ———————–
3. Nama-nama calon formatur harus didaftarkan oleh Dewan Pimpinan Daerah dan diumumkan di MUNAS sebelum acara pemilihan formatur dimulai. ————-
4. MUNAS memilih seorang formatur untuk jabatan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat, memilih seorang formatur untuk jabatan Ketua Dewan Kehormatan Pusat dan seorang formatur untuk jabatan Ketua Komisi Pengawas Pusat dengan cara musyawarah untuk mufakat atau diambil dengan cara suara terbanyak seperti biasa (voting). ———————————————————–
5. Pemilihan formatur oleh MUNAS tersebut dilangsungkan secara tertulis dan rahasia. —————————————————————————————–
6. Yang berhak memilih calon formatur-formatur tersebut di MUNAS adalah setiap peserta anggota MUNAS berdasarkan hak suara anggota. ——————–
——————————————— Pasal 41 ——————————————
—————————– TUGAS KEWAJIBAN FORMATUR ——————————
1. Seseorang formatur yang terpilih didampingi oleh 4(empat) orang yang dipilih dan peserta MUNAS berwenang dan berkewajiban membentuk dan menyusun serta mengangkat anggota-anggota pimpinan pengurus Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Pusat melaksanakan program kerja yang ditetapkan oleh MUNAS. —————————————————————————————-
Paling lambat dalam waktu 1(satu) bulan Dewan Pimpinan Pusat yang lama harus dalam status demisioner sudah melaksanakan serah terima jabatan termasuk harta kekayaan/inventaris dan segala sesuatunya kepada pimpinan pengurus Dewan Pimpinan Pusat yang baru terpilih untuk masa jabatan 4(empat) tahun berikutnya. —————————————————————————–
2. Seorang formatur yang terpilih untuk jabatan Ketua Dewan Kehormatan Pusat berwenang dan berkewajiban memilih dan mengangkat anggota-anggota Dewan Kehormatan Pusat sebagaimana ditentukan Pasal 33 Anggaran Dasar ini. ———-
Serah terima jabatan dan Ketua Dewan Kehormatan Pusat yang sudah habis masa jabatannya kepada Ketua Dewan Kehormatan Pusat terpilih, dilaksanakan bersamaan waktunya dengan waktu serah terima jabatan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat. ——————————————————————————-
3. Seorang formatur yang terpilih untuk jabatan Ketua Komisi Pengawas Pusat berwenang dan berkewajiban memilih dan mengangkat anggota-anggota Komisi Pengawas Pusat sebagaimana ditentukan Pasal 33 Anggaran Dasar ini. ————
Serah terima jabatan dan Ketua Komisi Pengawas Pusat yang sudah habis masa jabatannya kepada Ketua Komisi Pengawas Pusat yang baru terpilih, dilaksanakan bersamaan waktunya dengan waktu serah terima jabatan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat. ————————————————————-
4. Dengan telah terbentuknya susunan pimpinan pengurus Dewan Pimpinan Pusat susunan keanggotaan Dewan Kehormatan Pusat dan susunan keanggotaan Komisi Pengawas Pusat, maka berakhirlah tugas dan kewajiban masing-masing formatur tersebut. ———————————————————
——————————————- BAB XVII ——————————————-
———————— MUSYAWARAH NASIONAL LUAR BIASA ————————–
——————————————- Pasal 42 ——————————————–
1. Musyawarah Nasional Luar Biasa (MUNASLUB) dapat diadakan hanya bila dipandang perlu oleh Dewan Pimpinan Pusat atas permintaan dari sekurang-kurangnya sebanyak 1/2(setengah) ditambah 1(satu) dari jumlah Dewan Pimpinan Daerah Peradin seluruh Indonesia. ——————————————-
2. MUNASLUB diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Pusat dengan mengangkat Panitia Penyelenggara MUNASLUB. ——————————————————–
3. Dalam MUNASLUB tersebut dibicarakan hal-hal khusus yang bersangkutan dengan maksud penyelenggaraan MUNASLUB tersebut. ——————————-
4. Ketentuan-ketentuan BAB XV Pasal 36, Pasal 37, Pasal 38, Pasal 39, Pasal 40, dan Pasal 41 Anggaran Dasar ini secara mutadis-mutandis berlaku juga untuk MUNAS Luar Biasa. —————————————————————————
—————————————— BAB XVIII ——————————————-
———————————– RAPAT KERJA (RAKER) ———————————-
——————————————- Pasal 43 ——————————————–
————————————– PESERTA RAKER —————————————
1. RAKER diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Pusat dengan mengangkat Panitia Penyelenggara RAKER. ————————————————————-
2. RAKER dihadiri oleh Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Kehormatan Pusat, Komisi Pengawas Pusat, Dewan Pimpinan Daerah, Dewan Kehormatan Daerah, Komisi Pengawas Daerah, Dewan Pimpinan Cabang, Komisi Pengawas Cabang dan para undangan lainnya sebagai peserta RAKER. ———————————————–
——————————————– Pasal 44 ——————————————-
—————- PIMPINAN SIDANG DAN PESERTA ANGGOTA RAKER ——————
1. RAKER dipimpin oleh Ketua Umum atau Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat selaku pimpinan sidang. ————————————————————-
2. Tiap-tiap Dewan Pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan Cabang yang hadir di RAKER adalah sebagai peserta Anggota RAKER. ————————————
——————————————– Pasal 45 ——————————————-
——————– HAK SUARA DAN HAK BICARA DALAM RAPAT KERJA ————–
1. Setiap Dewan Pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan Cabang sebagai peserta anggota RAKER mempunyai hak bicara dan hak suara dengan mengeluarkan suara sebanyak-banyaknya satu suara. ————————————————–
2. Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Kehormatan Pusat, Komisi Pengawas Pusat, Dewan Kehormatan Daerah, Komisi Pengawas Daerah, Komisi Pengawas Cabang, yang hadir dalam RAKER sebagai peserta RAKER mempunyai hak bicara tetapi tidak mempunyai hak suara. —————————————————————-
3. Peserta undangan lainnya sebagai peserta RAKER tidak mempunyai hak bicara kecuali apabila diminta dan tidak mempunyai hak suara. ———————-
——————————————- Pasal 46 ——————————————–
—————————– KORUM DAN SAHNYA RAKER ———————————
1. RAKER adalah sah apabila dihadiri oleh seluruh Dewan Pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan Cabang atau dihadiri oleh sekurang-kurangnya sebanyak 1/2(setengah) dari jumlah seluruh Dewan pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan Cabang di seluruh Indonesia ditambah 1(satu) Dewan Pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan Cabang. ————————————————————–
2. Apabila korum tidak tercapal, maka waktu yang telah dijadwalkan untuk RAKER dimundurkan sekurang-kurangnya 24(dua puluh empat) jam dan setelah itu kemudian RAKER dinyatakan dibuka kembali dengan tidak terikat oleh korum lagi, selanjutnya RAKER dapat mengambil keputusan-keputusan secara sah apabila usul-usul Dewan Pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan Cabang disampaikan disetujui dalam musyawarah secara mufakat atau diambil dengan suara terbanyak sepeti biasa (voting). —————————————————-
3. Pemungutan suara dalam RAKER dilakukan berdasarkan perhitungan jumlah hak suara dan tiap Dewan Pimpinan Cabang yang hadir sebagai peserta anggota RAKER yang ditentukan berdasarkan atas jumlah suara terbanyak biasa. ———
——————————————- Pasal 47 ——————————————–
—————————— ACARA PANGGILAN RAKER ———————————-
Untuk acara panggilan RAKER diberlakukan ketentuan dalam BAB XV Pasal 35 Anggaran Dasar ini secara mutatis-mutandis. ——————————————-
——————————————- Pasal 48 ——————————————–
—————————– MAKSUD DAN TUJUAN RAKER ——————————–
1. RAKER hanya membicarakan hal-hal yang mengenai dan yang berhubungan dengan program kerja DPP. —————————————————————-
2. Dewan Pimpinan Pusat mengadakan RAKER dengan semua Dewan Pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan Cabang dan seluruh Indonesia sebanyak satu kali dalam satu tahun. —————————————————————————-
3. Keputusan-keputusan dalam RAKER dilakukan dalam musyawarah untuk mufakat atau dengan cara pemungutan suara berdasarkan jumlah suara terbanyak biasa dan keputusan-keputusan RAKER adalah mengikat Dewan Pengurus Peradin (Dewan Pengurus Pusat, Dewan Pengurus Daerah, dan Dewan Pengurus Cabang). —————————————————————————
——————————————- BAB XIX ——————————————–
—————————– RAPAT UMUM ANGGOTA DAERAH —————————
——————————————- Pasal 49 ——————————————–
———————— PESERTA RAPAT UMUM ANGGOTA DAERAH ——————–
1. Rapat Umum Anggota Daerah diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Daerah dengan mengangkat Panitia Penyelenggara Rapat Umum Anggota Daerah, yang diadakan secara berkala 4(empat) tahun satu kali. ————————————-
2. Rapat Umum Anggota Daerah dihadiri oleh Dewan Pimpinan Daerah, Dewan Kehormatan Daerah, Komisi Pengawas Daerah dan seluruh anggota Persatuan Advokat Indonesia di Daerah bersangkutan serta para undangan lainnya sebagai peserta Rapat Umum Anggota Daerah. —————————————————
3. Setiap anggota yang hadir di Rapat Umum Anggota Cabang adalah sebagai peserta anggota Rapat Umum Anggota Daerah. —————————————-
—————————————– Pasal 50 ———————————————-
——————— ACARA RAPAT UMUM ANGGOTA DAERAH ————————–
1. Pertanggungan jawab Dewan Pimpinan Daerah, Dewan Kehormatan Daerah dan Komisi Pengawas Daerah mengenai hal-hal yang telah dikerjakan selama dalam masa jabatannya masing-masing. ————————————————
2. Pertanggungjawaban laporan keuangan dan Dewan Pimpinan Daerah, ———
3. Mendengar usul-usul dan Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Cabang, Dewan Kehormatan Daerah yang khusus diundang untuk itu. ————————
4. Pemilihan calon-calon formatur untuk jabatan Ketua Dewan Pimpinan Daerah.
5. Pemilihan calon-calon formatur untuk jabatan Ketua Dewan Kehormatan Daerah dan Ketua Komisi Pengawas Daerah. ——————————————–
6. Hal-hal yang dianggap penting. ———————————————————
—————————————— Pasal 51 ———————————————
—————– PANGGILAN RAPAT UMUM ANGGOTA DAERAH ————————
1. Dewan Pimpinan Daerah menyelenggarakan Rapat Umum Anggota Daerah dengan undangan panggilan tertulis atau melalui iklan di harian surat kabar/media massa kepada semua anggota di daerahnya sekurang-kurangnya dalam waktu 7(tujuh) hari sebelum saat tanggal hari pembukaan dimulainya acara Rapat Umum Anggota Daerah. —————————————————–
2. Undangan panggilan tersebut memuat tentang waktu, tempat dan acara dan Rapat Umum Anggota Daerah. ————————————————————-
—————————————– Pasal 52 ———————————————-
———————- PIMPINAN RAPAT UMUM ANGGOTA DAERAH ———————
Rapat Umum Anggota Daerah dipimpin oleh Ketua/Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah atau diwakilkan kepada salah seorang anggota pimpinan pengurus Dewan Pimpinan Daerah lainnya. ———————————————————-
—————————————– Pasal 53 ———————————————-
——————- FORMATUR KETUA DEWAN PIMPINAN DAERAH ——————–
1. Calon-calon formatur Ketua Dewan Pimpinan Daerah diajukan dari dan dipilih oleh anggota Daerah dalam Rapat Umum Anggota Daerah. ————————–
2. Calon formatur untuk jabatan Ketua Dewan Pimpinan Daerah harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : ————————————————
a. telah terdaftar sebagai anggota Persatuan Advokat Indonesia. —————–
b. tidak menjabat sebagai salah satu pengurus Partai Politik (Parpol) baik Pusat maupun daerah. —————————————————————————
c. telah menunjukkan dedikasi dan loyalitas terhadap Peradin khususnya di Daerah. ————————————————————————————-
d. telah berpraktek Advokat berdasarkan izin yang berwenang sekurang- kurangnya selama 5(lima) tahun secara terus menerus. —————————-
e. berdomisili di tempat kedudukan Dewan Pimpinan Daerah. ————————
f. tidak pernah dihukum dengan putusan pidana yang telah berkekuatan hukum tetap dan pasti. —————————————————————————-
3. Persyaratan calon formatur ditentukan pada ayat 2 pasal ini berlaku juga bagi calon-calon formatur untuk jabatan Ketua Dewan Kehormatan Daerah dan Ketua Komisi Pengawas Daerah. ——————————————————————-
——————————————- Pasal 54 ——————————————–
—– HAK BICARA DAN HAK SUARA DALAM RAPAT UMUM ANGGOTA DAERAH —-
1. Setiap anggota yang hadir di Rapat Umum Anggota Daerah mempunyai hak bicara dan mempunyai hak suara dengan mengeluarkan suara sebanyak-banyaknya satu suara. ———————————————————————–
2. Dewan Pimpinan Daerah, Dewan Kehormatan Daerah Cabang, Komisi Pengawas Daerah dan undangan lainnya tidak mempunyai hak suara dan tidak mempunyai hak bicara kecuali bilamana diminta untuk bicara. ———————-
——————————————- Pasal 55 ——————————————–
————– KORUM DAN SAHNYA RAPAT UMUM ANGGOTA DAERAH —————
1. Rapat Umum Anggota Daerah adalah sah apabila dihadiri oleh seluruh anggota Daerah atau oleh sekurang-kurangnya berjumlah 1/2(setengah) dari jumlah seluruh anggota Daerah ditambah 1(satu) orang anggota Daerah. ——-
2. Apabila korum tidak tercapai, waktu yang telah dijadwalkan untuk Rapat Umum Anggota dimundurkan sekurang-kurangnya 1(satu) jam dan setelah itu kemudian Rapat Umum Anggota Daerah dinyatakan dibuka kembali dengan tidak terikat oleh korum lagi, selanjutnya Rapat Umum Anggota Daerah dapat mengambil keputusan-keputusan secara sah apabila usul-usul yang disampaikan anggota disetujui dalam musyawarah secara mufakat atau diambil dengan jumlah suara terbanyak seperti biasa (voting). ——————————–
———————————————- Pasal 56 —————————————–
———- KEWAJIBAN FORMATUR DALAM RAPAT UMUM ANGGOTA DAERAH ——
1. Formatur terpilih untuk jabatan Ketua Dewan Pimpinan Daerah berkewajiban menyusun dan mengangkat anggota-anggota pimpinan pengurus Dewan Pimpinan Daerah serta melaksanakan program kerja yang ditetapkan. ————-
2. Formatur terpilih untuk jabatan Ketua Dewan Kehormatan Daerah dan Ketua Komisi Pengawas Daerah berkewajiban menyusun dan mengangkat anggota-anggotanya masing-masing. —————————————————————-
3. Dengan telah terbentuknya susunan pimpinan pengurus Dewan Pimpinan Daerah susunan keanggotaan Dewan Kehormatan Daerah dan susunan keanggotaan Komisi Pengawas Daerah, maka berakhirlah tugas dan kewajiban masing-masing formatur tersebut. ———————————————————
4. Dalam waktu selambat-lambatnya tidak lebih dari 1(satu) bulan Dewan Pimpinan Daerah, Dewan Kehormatan Daerah dan Komisi Pengawas Daerah harus sudah melakukan serah terima pertanggung jawaban jabatannya masing-masing dari Ketua yang lama kepada Ketuanya yang baru. —————————
——————————————- BAB XX ———————————————
——————— RAPAT UMUM ANGGOTA DAERAH LUAR BIASA ——————-
—————————————— Pasal 57 ———————————————
1. Rapat Umum Anggota Daerah Luar Biasa dapat diadakan setiap kali bila dianggap perlu oleh Dewan Pimpinan Daerah setelah mendengar saran pendapat dari Komisi Pengawas Daerah atau atas permintaan tertulis dari anggota sekurang-kurangnya berjumlah 2/3(dua pertiga) dari seluruh jumlah anggota Daerah. —————————————————————————————–
2. Rapat Umum Anggota Daerah Luar Biasa dapat diadakan atas permintaan dan inisiatif dari Dewan Pimpinan Pusat setelah mendengar pendapat dari Komisi Pengawas Pusat. ——————————————————————————
3. Dalam pasal ini yang mengenai acara panggilan rapat, pimpinan rapat, hak suara dan hak bicara serta korum berlaku ketentuan BAB XIX Pasal 51, Pasal 52, Pasal 54 dan Pasal 55 Anggaran Dasar ini secara mutatis-mutandis. —-
———————————————- BAB XXI —————————————–
——————————- RAPAT UMUM ANGGOTA CABANG ————————-
———————————————- Pasal 58 —————————————–
————————- PESERTA RAPAT UMUM ANGGOTA CABANG ——————-
1. Rapat Umum Anggota Cabang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Cabang dengan mengangkat Panitia Penyelenggara Rapat Umum Anggota Cabang Peradin, yang diadakan secara berkala 4(empat) tahun satu kali. ——————–
2. Rapat Umum Anggota Cabang dihadiri oleh Dewan Pimpinan Cabang, Komisi Pengawas Cabang dan seluruh anggota Peradin di Daerah bersangkutan serta para undangan lamanya sebagai peserta Rapat Umum Anggota Cabang. ———
3. Setiap anggota yang hadir di Rapat Umum Anggota Cabang adalah sebagai peserta anggota Rapat Umum Anggota Cabang. —————————————-
—————————————— Pasal 59 ———————————————
———————– ACARA RAPAT UMUM ANGGOTA CABANG ————————
1. Pertanggungan jawab Dewan Pimpinan Cabang, dan Komisi Pengawas Cabang mengenai hal-hal yang telah dikerjakan selama dalam masa jabatannya masing-masing. ——————————————————————————-
2. Pertanggungjawaban laporan keuangan dan Dewan Pimpinan Cabang. ———
3. Mendengar usul-usul dan Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Daerah, Dewan Pimpinan Cabang, Dewan Kehormatan Cabang yang khusus diundang untuk itu. ————————————————————————————–
4. Pemilihan calon-calon formatur untuk jabatan Ketua Dewan Pimpinan Cabang.
5. Pemilihan calon-calon formatur untuk jabatan Ketua Komisi Pengawas Cabang.
6. Hal-hal yang dianggap penting. ——————————————————–
———————————————- Pasal 60 —————————————–
———————- PANGGILAN RAPAT UMUM ANGGOTA CABANG ——————
1. Dewan Pimpinan Cabang menyelenggarakan Rapat Umum Anggota Cabang dengan undangan panggilan tertulis atau melalui iklan di harian surat kabar/media massa kepada semua anggota di cabangmya sekurang-kurangnya dalam waktu 7(tujuh) hari sebelum tanggal pembukaan dimulainya acara Rapat Umum Anggota Cabang. ——————————————————————–
2. Undangan panggilan tersebut memuat tentang waktu, tempat dan acara dari Rapat Umum Anggota Cabang. ————————————————————-
———————————————- Pasal 61 —————————————–
———————– PIMPINAN RAPAT UMUM ANGGOTA CABANG ——————–
Rapat Umum Anggota Cabang dipimpin oleh Ketua atau Wakil Ketua Dewan Pimpinan Cabang atau diwakilkan kepada salah seorang anggota pimpinan pengurus Dewan Pimpinan Cabang lainnya. ———————————————
——————————————— Pasal 62 ——————————————
—————— FORMATUR KETUA DEWAN PIMPINAN CABANG ———————
1. Calon-calon formatur Ketua Dewan Pimpinan Cabang diajukan dari dan dipilih oleh anggota Cabang dalam Rapat Umum Anggota Cabang. ————————-
2. Calon formatur untuk jabatan Ketua Dewan Pimpinan Cabang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : ————————————————
a. telah terdaftar sebagai anggota Persatuan Advokat Indonesia. —————–
b. Tidak menjabat sebagai salah satu pengurus Partai Politik (Parpol) baik Pusat maupun daerah. —————————————————————————
c. Telah menunjukkan dedikasi dan loyalitas terhadap Peradin khususnya di Cabang. ————————————————————————————-
d. Telah berpraktek Advokat berdasarkan izin yang berwenang sekurang- kurangnya selama 5(lima) tahun secara terus menerus. —————————-
e. Berdomisili di tempat kedudukan Dewan Pimpinan Cabang. ———————–
f. Tidak pernah dihukum dengan putusan pidana yang telah berkekuatan hukum tetap dan pasti. ——————————————————————-
3. Persyaratan calon formatur ditentukan pada ayat 2 pasal ini berlaku pula untuk calon-calon formatur untuk jabatan Ketua Komisi Pengawas Cabang. —————
———————————————– Pasal 63 —————————————-
—– HAK BICARA DAN HAK SUARA DALAM RAPAT UMUM ANGGOTA CABANG —-
1. Setiap anggota yang hadir di Rapat Umum Anggota Cabang mempunyai hak bicara dan mempunyai hak suara dengan mengeluarkan suara sebanyak-banyaknya satu suara. ———————————————————————–
3. Dewan Pimpinan Cabang, Komisi Pengawas Cabang dan undangan lainnya tidak mempunyai hak suara dan tidak mempunyai hak bicara kecuali bilamana diminta untuk bicara. ————————————————————————
———————————————– Pasal 64 —————————————-
—————- KORUM DAN SAHNYA RAPAT UMUM ANGGOTA CABANG ————-
1. Rapat Umum Anggota Cabang adalah sah apabila dihadiri oleh seluruh anggota Cabang atau oleh sekurang-kurangnya berjumlah 1/2(setengah) dari jumlah seluruh anggota Cabang ditambah 1(satu) orang anggota Cabang. ——–
2. Apabila korum tidak tercapai, Rapat Umum Anggota Cabang dimundurkan untuk waktu 1(satu) jam dan setelah itu Rapat Umum Anggota Cabang dinyatakan dibuka kembali dengan tidak terikat oleh korum lagi, selanjutnya Rapat Umum Anggota Cabang dapat mengambil keputusan-keputusan secara sah apabila usul-usul anggota bersangkutan disetujui dalam musyawarah untuk mufakat atau diambil dengan suara terbanyak seperti biasa (voting). —————
——————————————– Pasal 65 ——————————————-
——— KEWAJIBAN FORMATUR DALAM RAPAT UMUM ANGGOTA CABANG ——-
1. Formatur terpilih untuk jabatan Ketua Dewan Pimpinan Cabang berkewajiban menyusun dan mengangkat anggota-anggota pimpinan pengurus Dewan Pimpinan Cabang serta melaksanakan program kerja yang ditetapkan. —-
2. Formatur terpilih untuk jabatan Ketua Komisi Pengawas Cabang berkewajiban menyusun dan mengangkat anggota-anggotanya masing-masing. ——————
5. Dengan telah terbentuknya susunan pimpinan pengurus Dewan Pimpinan Cabang susunan keanggotaan dan susunan keanggotaan Komisi Pengawas Cabang, maka selesailah tugas dan kewajiban dan masing-masing formatur tersebut. —————————————————————————————
6. Dalam waktu selambat-lambatnya tidak lebih dan 1(satu) bulan Dewan Pimpinan Cabang, dan Komisi Pengawas Cabang harus sudah melakukan serah terima pertanggung jawaban jabatannya masing-masing dari Ketua yang lama kepada Ketuanya yang baru. —————————————————————
———————————————- BAB XXII —————————————-
——————— RAPAT UMUM ANGGOTA CABANG LUAR BIASA ——————-
———————————————- Pasal 66 —————————————–
1. Rapat Umum Anggota Cabang Luar Biasa dapat diadakan setiap kali bila dianggap perlu oleh Dewan Pimpinan Cabang setelah mendengar saran pendapat dari Komisi Pengawas Cabang atau atas permintaan tertulis dari anggota sekurang-kurangnya berjumlah 2/3(dua pertiga) dari seluruh jumlah anggota Cabang. —————————————————————————————-
2. Rapat Umum Anggota Cabang Luar Biasa dapat diadakan atas permintaan dan inisiatif dari Dewan Pimpinan Daerah setelah mendengar pendapat dari Komisi Pengawas Daerah. ——————————————————————-
6. Dalam pasal ini yang mengenai acara panggilan rapat, pimpinan rapat, hak suara dan hak bicara serta korum berlaku ketentuan BAB XXI Pasal 60, Pasal 61, Pasal 63 dan Pasal 64 Anggaran Dasar ini secara mutatis-mutandis. —-
——————————————– BAB XXIII —————————————–
———————————— K E K A Y A A N ———————————-
——————————————— Pasal 67 ——————————————
1. Kekayaan Peradin berasal dari uang pangkal, uang iuran anggota, uang sumbangan yang bersifat tidak mengikat dan pendapatan-pendapatan lainnya yang bersifat tetap maupun tidak tetap yang diperoleh secara sah menurut ketentuan undang-undang yang berlaku. ————————————————-
2. Harta kekayaan tersebut tercatat dalam catatan laporan pertanggung jawaban keuangan Bendahara Pusat untuk Dewan Pimpinan Pusat, Bendahara Daerah untuk Dewan Pimpinan Daerah dan Bendahara Cabang untuk Dewan Pimpinan Cabang yang dilaporkan secara periodik maupun berkala serta pada akhir masa jabatan. ————————————————————————–
——————————————- BAB XXIV ——————————————-
——————————– ANGGARAN RUMAH TANGGA ——————————
——————————————- Pasal 68 ——————————————–
1. Anggaran Rumah Tangga tidak boleh memuat ketentuan-ketentuan yang bertentangan dengan Anggaran Dasar ini. ———————————————–
2. Anggaran Rumah Tangga ditetapkan dan disahkan oleh Dewan Pimpinan Pusat. ——————————————————————————————-
—————————————— BAB XXV ———————————————
—————————– PERUBAHAN ANGGARAN DASAR —————————–
—————————————— Pasal 69 ———————————————
1. Yang berhak dan berwenang untuk mengubah Anggaran Dasar ini adalah MUNAS atau MUNASLUB. ——————————————————————–
2. Putusan tentang perubahan Anggaran Dasar ini diambil berdasarkan hasil kesepakatan dalam musyawarah dan jika tidak tercapai, maka keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak melalui pemungutan suara (voting). ——————
—————————————– BAB XXVI ———————————————
———————————– P E M B U B A R A N ————————————-
—————————————– Pasal 70 ———————————————-
1. Pembubaran organisasi Peradin dilakukan dan diputuskan dalam MUNAS Luar Biasa yang diadakan khusus untuk maksud tersebut. ———————————
2. MUNAS Luar Biasa dimaksud adalah sah apabila dihadiri oleh anggota yang berjumlah sekurang-kurangnya 2/3(dua pertiga) dari seluruh jumlah anggota. —-
3. Apabila korum dalam MUNASLUB dimaksud tidak tercapai, maka waktu yang telah dijadwalkan untuk MUNASLUB tersebut dimundurkan sekurang-kurangnya 24(dua puluh empat) jam. ——————————————————————
4. Pembubaran organisasi Peradin hanya dapat diselenggarakan dalam MUNAS Luar Biasa yang khusus diadakan untuk maksud tersebut, dan dihadiri serta disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3(dua pertiga) dari seluruh jumlah anggota Peradin, dimana 2/3(dua pertiga) dari seluruh jumlah anggota Peradin atau yang mewakilinya harus hadir dalam MUNASLUB tersebut. ———————————-
—————————————– BAB X XVII ——————————————-
——————————— KETENTUAN PENUTUP ————————————-
—————————————– Pasal 70 ———————————————-
Apabila dalam anggaran dasar ini dianggap kurang jelas dan menimbulkan perbedaan penafsiran, maka DPP dapat membuat peraturan dan mengambil kebijakan setelah mendengar pendapat dari Komisi Pengawas Pusat sepanjang tidak mengenai ketentuan-ketentuan yang diatur dalam BAB XV. ——————–
Akhirnya para penghadap tersebut di atas menerangkan : —————————-
– bahwa untuk pertama kalinya Anggaran dasar ini disusun oleh Panitia Ad Hoc yaitu Sakurayati Trisna SH, Abi Hasan Muan SH, Firman Simatupang SH, Wendy Melfa SH. MH, Ahmad Iswan Hendy Caya SH, Faisal Chudari SH, M. Ridho SH, Agusman Chandra Jaya SH, Watoni Nurdin SH, Ninggrum Gumay SH, Syukri Baihaki SH, dan Abdullah Fadri Auli SH, yang diangkat berdasarkan Keputusan Tim Formatur Organisasi Advokat Indonesia Nomor: 02/TF.M.AL/09.03 tentang Pembentukan Panitia Ad Hoc. ————————————————————–
– bahwa isi akta ini telah sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh para penghadap tersebut; ————————————————————————-
– bahwa para penghadap tersebut dengan ini menyatakan apa yang telah dituangkan dan diterangkan dalam akta ini adalah hal yang sesungguhnya, oleh karena itu para penghadap tersebut dengan ini pula menyatakan kesanggupan dan kesediaannya untuk mempertanggungjawabkan sesuai ketentuan hukum yang berlaku; ———————————————————————————-
Para penghadap saya, Notaris, kenal. —————————————————-
—————————— DEMIKIANLAH AKTA INI ————————————–
Dibuat sebagai minuta dan dibacakan serta ditanda tangani di Bandar Lampung, pada hari dan tanggal tersebut dalam kepala akta ini, dengan dihadiri oleh saksi-saksi, yaitu : ———————————————————————————–
– Tuan DIDIK MARYONO, Sarjana Hukum, Magister Hukum, Konsultan Hukum, bertempat tinggal di Bandar Lampung, dan; —————————————-
– Tuan HARIYO WIDODO, Sarjana Hukum, Magister Kenotariatan, Pegawai Notaris, bertempat tinggal di Bandar Lampung; ————————————
Segera setelah akta ini saya, Notaris bacakan kepada para penghadap dan saksi-saksi, maka akta ini ditandatangani oleh para penghadap, saksi-saksi dan saya, Notaris. —————————————————————————————–
Dilangsungkan tanpa perubahan. ———————————————————-
Asli akta ini telah ditandatangani dengan sempurna. —
Diberikan sebagai salinan yang sama bunyinya. ———

N o t a r i s,

( SOEKARNO, SH )
Diumumkah dalam BERITA NEGARA RI tanggal 9 Januari 2004 Nomor 3, dan dimuat dalam Tambahan BERITA NEGARA RI Nomor 2 Tahun 2004.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s