TEROPONG HUKUM


Wadah Tunggal Advokat

Tanggal 30 Mei 2008, berlangsung rapat akbar yang menamakan Kongres Advokat Indonesia di Jakarta dan kini telah usai perhelatan akbar tersebut. Diketahui tujuan Kongres tersebut adalah membentuk Wadah Tunggal Advokat Indonesia konon bersumber dari amanat UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat. Gaung pemberitaan telah melanda blantika kehidupan Advokat di tanah air kita ini, tetapi masih ditandai tebar pesona tokoh-tokohnya.

Adakah kesan yang didapat nuansa pendapat pro dan kontra dengan pembenaran argument masing-masing dalam tubuh dan diri para Advokat, bak seorang Gladiator telah menang bertanding dengan bangga tujuan tercapai dengan klaim KAI sebagai Wadah Tunggal Advokat Indonesia. Penulis bangga masih terdapat “ Heroisme” dikalangan Advokat karena pada alasannya mereka ini berkeinginan (ideal) memberdayakan idealisme Advokat sebagai Officium Nobele alias Profesi Mulia di tanah air tercinta ini, dengan segala atribut dan predikat Advokat yang moncer.
Karena keinginan yang sangat antusias tersebut malahan didapat kesan mereka ini sebagai pahlawan dan Hero yang merasa besar dan menang sendiri (Tiada lain yang benar, yang benar diri sendiri) setelah perang usai.
Kalau memang benar bagiku, perlu dipertanyakan : ADAKAH KEGUNAAN KEWENANGAN ITU? Adalah predikat, kegunaan, keperluan Hukum dengan Keadilan, apakah kewenangan tersebut telah dapat memenuhi kriteria tersebut? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab, karena apapun jawaban telah mengandung muatan pro dan kontra. Orang Jawa akan menjawab “ ngono yo ngono, ning mbok ya ojo ngono”!.
Alm. Prof. Dr. Teuku Jacob, mantan Rektor UGM, berpendapat bahwa PREMOLOGI. Sarjana barat… adalah ilmu perang, tetapi … bukan PREMOLOGI adalah ilmu perdamaian. Mana yang benar Hugo De Groot dalam bukunya Bellum ac Paxis, bercerita bahwa di Dunia terdapat Perang dan Damai dan perang telah terjadi pada 4000 tahun sebelum Masehi dan berlangsung hingga sekarang ini bangsa kita sendiri. Karena Nabi Muhammad SAW berpendapat Perang belum selesai walaupun ..selesai dan menang. Perang dalam Mati memerangi Hawa Nafsu. Apakah sebenarnya Perang dan apakah arti Perdamaian, intinya adalah demi peri kemanusiaan! Antara Perang dan Damai adalahmerupakan kepentingan umat manusia. Akhirnya siapakah sebagai Pahlawan? Jenderal yang menang perang dalam pertempuran atau mawar yang berhasil menyembuhkan/menyelamatkan korban perang, orang-orang yang menjadi korban peperangan? Bukankah orang berkaca pada Si Vis Pacem pare bellium, yang berarti barang siapa ingin damai, siaplah untuk perang!!
Mana yang Pahlawan, para ahli menciptakan senjata permusuhan umat manusia dengan senjata kasih sayang seperti yang pernah dilakukan oleh ibu Theresia di India!
Perlu refleksi dan penelitian bathij masing-masing mumpung belum terjadi ekses berlanjut. Perdebatan tentang Wadah tunggal Advokat sesungguhnya telah berlangsung sejak tahun 1963 tatkala para senior Advokat mendirikan Perhimpunan advokat (Peradin), karena diakui bahwa kemerdekaan dicapai bangsa terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia?.mengapa para Advokat tidak bersatu dalam profesi Advokat yang mempunyai Wadah Tunggal sebagai konsekuensi para Advokat Pejuang Hukum tidak menopang berdirinya Negara IndonesiaMerdeka yang sejak awal berbentuk negara Hukun? Bukankah Advokat Pejuang telah dibuktikan oleh Mr, Sastro Muljono, Mr. Ishak, Mr. Maramis, Mr. Moh Ytamin, (salah satu konseptor UUD 1945), Loekman Wirijadinata, Yap Thiem, bukanlah bung Hatta dibela oleh Advokat-advokat yang Genius tatkala diadili di Negeri Belanda. Sisa-sisa sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia Vrig? Bukankah Bung Karno, dibela oleh para Advokat anti kolonial tatkala memperjuangkan ide Indonesia merdeka dikenal sebagai “ Indonesia Menggugat”? bukankah kewajiban para Advokat mengisi kemerdekaan tatkala Negara telah didirikan dengan segala pengorbanan oleh Funding Fathers?
Karenanya patut bersyukur bahwa kita telah memiliki Bapak-bapak Advokat yang telah membuktikan karya-karya nyatanya dalam perjuangan bangsa, Negara, dan Tanah Air? Pernahkah beliau-beliau itu menongol diri? Tebar Pesona nampaknya tidak, sebab 0rang berjasa tidak perlu diperlihatkan kepada Publik.
Dari perjalanan lintas sejarah dapat diketahui bahwa perjuangan untuk Wadah Tunggal Profesi Advokat telah lama dicita-citakan bahkan dirindukan kehadirannya di negeri Hukum Indonesia tercinta ini.
Tatkala organisasi Advokat bernama Peradin berulang tahun pada tahun 1984 tepatnya pada tanggal 25 Agustus 1984 di Hotel SAHID JAYA JAKARTA dengan thema “ Tantangan terhadap perannan Advokat dalam ERA PEMBANGUNAN HUKUM “. Para Advokat semua telah berikrar untuk membentuk wadah Tunggal Yang berbobot dan berkarakter Nasional Bar Association, telah terjadi diskusi yang sengit untuk berikrar membentuk Wadah Tunggal Advokat.
Kelanjutan diskusi telah disadari pembentukan Wadah Tunggal BELUM BERHASIL karena yang ada kondisi yang NON PREFERABEL. Sadar akan kenyataan forum mempersoalkan “kenapa kita getol membentuk WADAH TUNGGAL?” bukankah yang kita butuhkan adalah korp advokat yang kuat, berbudi luhur, berilmu tinggi, berintegrited (integritas, loyalitas profesi) dan selalu memperjuangkan keadilan, kebenaran hukum (justice for all). Sedangkan wadah tunggal adalah sebagai sarana atau alat untuk mencapai tujuan itu. Bukankah kita sudah memiliki Peradin yang sudah signifikan untuk melaksanakan perjuangan advokat sebagai ciri dan karakter perjuangan, profesional, intelektual, dan sosial sebagai telah dideklarasikan di Yogyakarta pada tahun 1977?
Gerakan untuk terwujudnya wadah tunggal berjuang dan tercapai pada tahun 1985 (10 November) atas usaha dan prakarsa Peradin (Harjono Tjitrosubono) dan pemerintah (Ali Said, S.H. Jaksa Agung) berhasil membentuk wadah tunggal bernam IKADIN.
Akan tetapi IKADIN telah didominasi oleh orang-orang Peradin yang heroik dan profesional. Konsidi tersebut tidak diinginkan. Dengan dimotori oleh Ismail Saleh (Menteri Kehakiman RI), IKADIN pecah dengan terbentuknya organisasi AAI pada tahun 1990 sehingga wadah tunggal IKADIN gagal sebagai wadah tunggal.
Dalam era reformasi atas prakarsa pemerintah (Menteri Kehakiman Prof. Muladi) telah merintis untuk pelaksanaan peradilan yang bebas diperlukan organisasi advokat yang bebas,maka diupayakan keberhasilan dengan disatukan puncak peradilan pada Mahkamah Agung dan dibentuknya Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial diharapkan terbentuknya wadah tunggal organisasi profesi advokat yang akhirnya diketahui bernama PERADI.
Peradi sebagai wadah tunggal profesi advokat pada awalnya telah diuji,. Digoyang, dan bahkan dijustifikasikan sebagai bukan wadah tunggal yang berbuntut polemik dan ontran-ontran sebagai baru-baru ini terlihat dalam belantikan kehidupan berorganisasi dan dalam tubuh advokat.
Pro dan kontra berlangsung sehingga terdapat kontradiksi yang apabila tidak diintropeksi akan menjadikan kegagalan lagi Peradi bukan menjadi wadah tunggal para advokat yang berdebat ekses negatif dalam sistem penegakan hukum Indonesia.
Kini telah dirasakan kemanfaatannya untuk menciptakan wadah tunggal advokat, bukan karena paralel dengan semangat nasionalisme menjunjung tinggi persatuan bangsa yang memiliki My of Life Pancasila,sekaligus untuk meningkatkan kualitas, martabat, dan profesional dalam skala luas dan standar mutu guna membendung arus krisis multi duniawi saat ini tentu saja menghindarkan terjadinya kutu loncat dan bajing loncat dalam tubuh organisasi advokat yang dapat mencoreng citra advokat Indonesia. Hal tersebut perlu koordinasi nasional.
Alternatif yang dapat diusulkan bahwa saat ini telah terbentuk Peradi senang dan tidak senang mau kita kembangkan dengan di sana sini kita koreksi secara obyektif dan konstruktif mengingat cita-cita tersebut telah perjuangkan lama 1963 sampai 2003 – 2008 = 45 tahun telah ada tanda-tanda berhasil terbentuk wadah tunggal profesi advokat, dimana seluruh advokat di Indonesia terwadahi dalam nuasan kode etik dan Code of Conduct kita hanyati. Agar sejajar dengan advokat asing yang sebentar lagi akan membanjir ke Indonesia dalam kerangka globalisasi.
Mari berkemas-kemas menyongsong kehadiran korp masing-masing Indonesia dan mari tidak usah malu dengan mantan penjajah kita Negeri Belanda yang satu-satunya negara di dunia yang memiliki wadah tunggal yang bernama NOVA (Nederland Order Von Advocaties) dan walaupun di belahan bumi di dunia ini tidak ada yang berwadah tunggal bagi para advokat tetapi memakai sistem Multi Bar Association.
Mari kita jangan disadari bahwa Indonesia diperintah oleh orang-orang mati, yaitu Indonesia negara hukum tetapi hukum Belanda masih banyak bercokol menyakiti kita. Harapan kepada Peradi koreksi total dalam kerangka Mission Advokat Indonesia berteguh pada prinsip dan profersional dengan meneguhkan kode etik advokat yang bermartabat.
Tunjukkanlah Peradi selaku Single Bar Association tempat bersatunya advokat Indonesia yang memiliki karakter Ketuhanan yang berintikan Five Principle of Indonesian alias PANCASILA. Semoga roh Peradin tetap mengisi jiwa PERADI.
Viva PERADI.
Viva Bangsa Indonesia

Yogyakarta, 28 Juni 2008

J.C. Sudjami

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s